SunatSemarang.com – Kelahiran buah hati laki-laki tentu membawa kebahagiaan luar biasa. Namun, terkadang kebahagiaan itu bercampur dengan kecemasan saat orang tua menyadari ada sesuatu yang “berbeda” pada alat kelamin putranya.
Pernahkah Anda memperhatikan saat anak buang air kecil, pancaran air seninya tidak lurus ke depan melainkan merembes ke bawah atau menyiprat tidak beraturan? Atau mungkin, bentuk penis anak terlihat sedikit bengkok dengan kulit kulup yang menumpuk hanya di bagian atas saja?
Jika iya, jangan panik dulu, namun Anda perlu waspada. Kondisi ini dalam dunia medis dikenal dengan nama Hipospadia. Ini adalah kelainan bawaan lahir yang cukup umum terjadi, di mana lubang kencing (meatus uretra) tidak berada di ujung kepala penis, melainkan di bagian bawah batang penis.
Artikel ini akan mengupas tuntas klasifikasi atau tipe hipospadia, penyebabnya, dan solusi medis terbaik. SunatSemarang.com hadir untuk memberikan edukasi agar Anda tidak salah langkah dalam mengambil keputusan medis untuk si Kecil.
Apa Itu Hipospadia? (Definisi Medis)
Hipospadia berasal dari bahasa Yunani, hypo (di bawah) dan spadon (lubang). Secara sederhana, ini adalah kondisi anatomi di mana saluran kemih (uretra) gagal tumbuh sempurna hingga ke ujung penis saat bayi masih dalam kandungan.
Akibatnya, lubang keluar urine terhenti di suatu titik di sepanjang sisi bawah penis. Kondisi ini sering kali disertai dengan Chordee, yaitu jaringan ikat yang membuat penis melengkung ke bawah saat ereksi, serta bentuk kulup yang tidak melingkar sempurna (seperti tudung kobra).
Baca Juga: Mengenal Optical Maser, Prinsip Dasar Sunat Laser Cepat & Aman
Mengenal 3 Tipe Hipospadia Berdasarkan Letak Lubang
Tingkat keparahan hipospadia sangat bervariasi. Dokter mengklasifikasikan tipe hipospadia berdasarkan seberapa jauh letak lubang kencing dari posisi normalnya (ujung glans). Semakin jauh lubangnya dari ujung, semakin kompleks penanganannya.
Berikut adalah 3 kategori utamanya:
1. Tipe Hipospadia Distal (Anterior/Ringan)

Ini adalah jenis yang paling umum terjadi (sekitar 50-70% kasus). Pada tipe ini, lubang kencing berada sangat dekat dengan ujung penis, namun tidak tepat di tengah.
Sub-tipe:
- Glandular: Lubang berada di kepala penis (glans) tapi agak ke bawah.
- Coronal: Lubang berada di leher penis (batas antara kepala dan batang).
- Subcoronal: Sedikit di bawah leher penis.
Implikasi: Sering kali fungsi berkemih hampir normal, namun pancaran air seni mungkin sedikit melebar. Secara estetika terlihat sedikit berbeda.
2. Tipe Hipospadia Midshaft (Middle/Sedang)

Pada tipe ini, lubang kencing terletak di tengah-tengah batang penis.
-
Karakteristik: Biasanya disertai dengan kelengkungan penis (chordee) yang lebih nyata.
-
Implikasi: Anak harus sedikit jongkok atau mengangkat penisnya saat pipis agar tidak membasahi celana/kaki, karena air seni keluar dari tengah batang.
3. Tipe Hipospadia Proksimal (Posterior/Berat)

Ini adalah tipe yang paling jarang (sekitar 20%) namun paling parah dan kompleks. Lubang kencing berada jauh di pangkal penis.
Sub-tipe:
- Penoscrotal: Lubang berada di pertemuan antara batang penis dan kantung kemaluan (skrotum).
- Scrotal: Lubang berada tepat di area kantung kemaluan (skrotum sering terlihat terbelah).
- Perineal: Lubang berada di area perineum (di bawah skrotum, dekat anus).
Implikasi: Anak tidak bisa buang air kecil sambil berdiri (harus duduk seperti perempuan). Bentuk penis sering kali sangat bengkok dan kecil, sehingga perlu rekonstruksi serius agar fungsi seksual dan reproduksinya kelak tidak terganggu.
Gejala Fisik yang Mudah Dikenali Orang Tua
Selain melihat posisi lubang, ada tanda-tanda fisik lain yang menyertai berbagai tipe hipospadia di atas. Orang tua wajib cek kondisi ini saat mengganti popok:
-
Kulup Tidak Sempurna (Hooded Prepuce) – Kulit kulup hanya menutupi bagian atas kepala penis, sedangkan bagian bawahnya terbuka. Bentuknya sering disebut seperti “kerudung” atau tudung ular kobra.
-
Penis Bengkok (Chordee) – Saat penis bayi menegang (bayi sering ereksi saat pagi/mau pipis), penis terlihat melengkung ke bawah.
-
Cara Pipis yang Tidak Biasa – Air seni tidak memancar lurus, tapi menyebar (spray) atau menetes ke bawah membasahi kaki.
Bolehkah Anak Hipospadia Disunat?
Ini adalah pertanyaan paling kritis. Jawabannya: TIDAK BOLEH DISUNAT DENGAN CARA BIASA.
Mengapa? Karena kulit kulup yang ada (yang biasanya dibuang saat sunat) adalah “bahan cadangan” yang sangat berharga. Dokter bedah akan membutuhkan kulit tersebut untuk operasi rekonstruksi (urethroplasty) guna membuat saluran kencing baru hingga ke ujung penis.
Jika anak hipospadia terlanjur disunat oleh mantri atau dokter yang kurang teliti, maka kulit cadangan itu hilang. Akibatnya, operasi perbaikan di masa depan akan menjadi jauh lebih sulit karena dokter harus mengambil kulit cangkok dari area lain (seperti mukosa mulut).
Di SunatSemarang.com, kami menerapkan protokol skrining ketat. Sebelum tindakan sunat dilakukan, dokter kami akan memeriksa dengan teliti apakah anak memiliki ciri-ciri hipospadia.
-
Jika ditemukan hipospadia ringan (distal) yang tidak butuh operasi, sunat mungkin bisa dilakukan dengan teknik khusus.
-
Jika ditemukan hipospadia tipe sedang/berat, kami akan menunda sunat dan merujuk orang tua ke spesialis Urologi Anak untuk penanganan yang tepat. Kejujuran medis ini adalah komitmen kami demi masa depan anak Anda.
Penanganan Medis: Operasi Urethroplasty
Satu-satunya cara memperbaiki hipospadia (terutama tipe midshaft dan proksimal) adalah dengan jalan operasi. Tidak ada obat minum atau pijat yang bisa memindahkan lubang kencing.
Tujuan Operasi:
-
Fungsional – Membuat saluran kencing baru lurus sampai ke ujung, sehingga anak bisa pipis berdiri dengan normal dan ejakulasi sperma yang tepat (untuk kesuburan masa depan).
-
Kosmetik – Meluruskan penis yang bengkok (chordee release) dan membentuk tampilan penis yang normal.
Penyebab Hipospadia: Apakah Salah Orang Tua?
Banyak ibu merasa bersalah saat anaknya lahir dengan kondisi ini. Perlu ditegaskan, ini bukan salah Anda. Penyebab pasti hipospadia belum diketahui tunggal, namun para ahli menduga kombinasi faktor berikut:
-
Genetik (Keturunan) – Jika ayah atau saudara kandung memiliki riwayat hipospadia, risiko anak terkena akan lebih tinggi.
-
Hormonal – Gangguan pada hormon testosteron saat pembentukan organ vital janin di trimester awal kehamilan.
-
Usia Ibu dan Faktor Lingkungan – Kehamilan di usia tua (>35 tahun) atau paparan zat kimia tertentu (pestisida/hormon) selama hamil diduga memiliki korelasi, meski masih diteliti.
Peran SunatSemarang.com dalam Kesehatan Anak Anda
Meskipun SunatSemarang.com adalah pusat layanan khitan, kami menempatkan diri sebagai mitra kesehatan keluarga. Kami bukan sekadar “pemotong kulit”, tapi juga penjaga kesehatan reproduksi anak Anda.
Banyak kasus di mana orang tua datang untuk sunat, namun dokter kami menemukan adanya tanda-tanda tipe hipospadia yang terlewatkan. Deteksi dini di klinik kami telah menyelamatkan banyak anak dari risiko komplikasi bedah yang tidak perlu.
Memahami tipe hipospadia bukan hanya tugas dokter, tapi juga wawasan penting bagi orang tua. Memiliki anak dengan kondisi ini bukanlah aib, melainkan kondisi medis yang sangat bisa diperbaiki dengan teknologi kedokteran modern.
Kuncinya adalah JANGAN ASAL SUNAT. Pastikan Anda membawa anak ke klinik sunat terpercaya yang memiliki dokter berkompeten untuk melakukan skrining awal.
Ingin memastikan kondisi “burung” si Kecil normal dan siap sunat?
Konsultasikan Sekarang di SunatSemarang.com Dokter kami siap melakukan pemeriksaan menyeluruh dan memberikan solusi sunat terbaik (Laser/Klamp/Stapler) yang aman dan sesuai kondisi anatomis anak Anda.
📞 Hubungi Kami:
-
Website: www.sunatsemarang.com
-
Alamat: Jl. Tlogosari Raya 1 No. 65, Semarang